Rabu, 21 Maret 2012


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur panulis haturkan kehadiran TUHAN Yang Maha Esa, karena dimana besar cinta kasihnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini

Terimakasih juga kepada dosen pembimbing dan juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun dengsn tujuan memberikan pemahaman dam notivasi dilakukan masyarakat, agar dapat berguna untuk menunjang dan fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan penyakit sistem integumem “DERMATITIS KONTAK”
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan – kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat dio harapkan oleh penulis untuk melengkapi makalah ini.




Penulis
BAB I
PENDAHULUAN


1. Definisi Kulit
Kulit adalah organ tubuh yang terletak pada bagian luar dan membatasi dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ dan vital serta mencerminkan kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elstis dan sensitif bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, rasa, dan juga bergantung pada kondisi tubuh

2. Anatomi Kulit
Anatomi kul;it secara hispotalogik kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama, yaitu:
1.1 Lapisan Epidermis terdiri atas :
Satrum korneum ( Lapisan tanduk )
Lapisan paling luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak beinti dan protoplasmanya telah beruba menjadi keratin (zat tanduk)
Stratum lusidum
Terdapat langsung dibawah komponen korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi berarti protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas ditelapak (zat Kerathohialin)
Stratum Granulosum (Lapisan Keratihialin )
Merupakan 2 ata 3 bagian sel-sel gepeng dengan sitoplasma bebutir kasar dan inti diantaranya stratrum granulosum juga tampak jelas ditelapaktangangan dan kaki
Stratum Basale
Terdiri sel-sel kubus (kulumnur) yangbtersusun fertikal pada pembatasan dermo epidermal seperti pagar (palisade) lapisan ini merupakan lapisan bawah.

1.2 Lapisan Dermis
Lapisan dibawah epedermis yang jauh lebih tebal dari pada epidermis

1.3 Lapisan Subkutis
Kelanjuten dermis terdiri atas jaringan ikat longgar, berisi sel-sel lemak didalamnya. Lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi pembuluh darah dan getah bening

3. Fungsi Kulit
Kulit mempunyai fungsi yaitu :
3.1 Sebagai mproteksi, kulit manjaga dalam tubuh terghadapm gangguan atau mekanisme
3.2 Sebagai absorpsi penyerapan dapat berlangsung melalui cara anatar sel menbus sel-sel epidermis
3.3 Sebagai ekskresi kelebjar-kelenjar kulit mengeluarkan sat-sat yang tidak berguna atau sisa metabilosme dalam tubuh
3.4 Sebagai persepsi kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik disermis dan subkutis
3.5 Sebagai pengatur suhu tubuh (termoregulasi) kulit melakukan peran ini dengan cara mengeluarkan keringat dan menyerutkan pembuluh dara kulit
3.6 Sebagai pembentuk pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak dilapisan basal dan sel ini berasal dari nyeri saraf.
3.7 Sebagai keratin lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu keratinosit, sel langerhans, melanosit
3.8 Sebagai pembentuk vitamin D

BAB II
ISI
DERMATITIS KONTAK

2.1 Definisi
Dermatitis kontak ( dermatitis venenata) merupakan reaksi kulit terhadap unsur- unsur fisik, keringat, atau biologi. Epidermis mengalami kerusakan akibat iritasi fisik dan kimia yang berulang-ulang. Dermatitis kontak bisa berupa tipe iritan-iritan primer reaksi nonalergik terjadi akibat pajanan terhadap substansi iritatif satau tipe oleh pajanan terhadap alergen kontak penyebab dermatitis kontak iritan yang lazim adalah sabun, diterjen, bahan pembersih dan zat kimia industri.

2.2 Etiologi
Banyak agen dapat meyebabkan dermatistik kontak dibawah ini beberapa contoh sekret serangg, lipas dan sebagainnya, serta getah tumbuh-tumbuhan dan dapat menimbulkan dermatitis. Yang terbentuk liner, serta getah tumbuh-tumbuhan dapat menimbulkan dan sat-sat terjen (mis. Lisol) dessinfektasia dan zat warna (untuk pakaian, sepatu dan lain-lain

2.3 Patogenesis
Dermtitis kontak alergik termasuk reaksi tipe IV ialah hipersentivitas tipe lambat. Pantogenesisnya melalui 2 fase yaitu :
Fase induksi adalah :
Saat kontak pertam anergen dengan kulit sampai limposit mengenal dan memberi respon, memerlukan waktu 2 – 3 minggu.

Fase Elisitas adalah :
Terjadi kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa sel efektor yang telah tersintisasi mengeluarkkan limforkrim yang mampu menarik berbagai sel badan sehingga terjadi gejala klinis.

2.4 Manifestasi Klinis
Erupsi dimulai ketika unsur penyebeb mengenai kulit. Reaksi pertama mencakup rasa gatal, terbakar dan eritama yang segera diikuti oleh gejela edema, pakula, vesikel serta perembesan atau sekret. Pada fase subkutis, perubahan vesikuler ini tidak begitu mencolok lagi dan berubah menjadi pembentukan krusta, pengeringan atau bila pasien terus menerus menggaruk kulitnya, penebalan kulit (likenifikasi) dan pigmentasi ( perubahan warna) akan terjadi infasi sekunder timbul kembali

2.5 Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnese dan gambaran klinis. Percobaan tempel tidak dapat dilakukan pada stadim akut, karena akan memberatkan penyakit.

2.6 Pengobatan
Proteksi terhadap zat penyebab dan penghindaran kontakan merupakan tindakan penting. Antihistamin sistimik tidak di indikasikan pada stadium permulaan, sebab tidak ada pembebasan histamin. Pada stadium slenjunya terjadi pembebasan histamin secara pasiv. Kortikosteroid sistimik hanya diberikan penyakit berat misalnya predmison 20 mg sehari. Terapi topikal digunakan sesui dengan petunjuk umum pengobatan dermatitis.

Contoh-contoh obat dermatitis :
- Amsinosid 0,1 % ( Cyclocort) krim, salep
- Deksametason ( decadron) krim
- Hidrokortison (Chloramfecort) krim, salep
- Betametason Vaerat 0.01 % (valiusone) krim
- Desoksimetason 0.25% (topicor) krim, salep


BAB III
FARMAKOLOGI OBAT

3.1 Cloramfecort
Komposisi :
Tiap gram krim mengandung
Cloramfenikol basa………. 20 mg
Hidrokartison Asetat………25 mg
Farmakologi
Cloramfenikol merupakan suatu antibiotika yang memiliki sprektum antimkuman yang luas berfungsi untuk menyembukan infeksi poada kulit, termasuk infeksi-infeksi sekunder yang umunya menyertai radang kulit
Indikasi
Pengobatan penyakit-penyakit kulit akibat alergi.
Efek samping :
Sebagai mana prepara, kortikosteroid lain, pemakaian hidrokartison dalam jangka panjang dapat menyebabkan atrovi epidermal dan dermal sehingga kulit menjadi tipis, stria angieklasi purpura tipe senil (misalnya) pada leher, muka, ketik, daerah perianal), mengaburkan infeksi jamur dan skabies serta memperbberat infeksi yang ada.
Kotra Indikasi
Infeksi jamur (mikosis) dan tuberkulosis kulit
Perhatian dan Peringatan
Hanya untuk pengobatan kulit, jangan digunakan pada mata

Kemasan : Tube berisi 10 g krim .
Dosis : 2 x pemberian perhari .

3.2 Farmakokinetik
Absorpsi : cepat pada semua rute, kecuali rektal
Metabolisme : di hati
T1/2 Biologik : 8 – 12 jam
Eliminasi : ginjal terutama sebagi 17 hidrositeroid dan 17 ketosteroik

BAB IV
PROSES KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
- Dapatkan riwayat dari klien mengenai awitan dari lesi kulit Perhatikan jika terdapat riwayat keluarga dari kelainan kulit.
- Kaji erupsi kulit klien. Jika ada jelaskan lesi lokasi dan drainasenya
- Dapatkan pembiakan dari lesi kulit yang mengalirkan nanah
- Dapatkan tanda-tanda vital dasar klien. Laporkan jika ada kenaikan suhu

4.2 Perencanaan
Lesi-lesi kulit akan mengecil atau akan hilang setelah terapi obat dan keperawatan kulit

4.3 Intervensi Keperawatan
- Oleskan pengobatan topikal pada lesi-lesi kulit dengan menerapkan teknik aseptik
- Pantau tanda – tanda vital dan laporkan penemuan yang abnormal
- periksa tempat – tempat terjadinya lesi selama terpi obat untuk melihat adanya perbaikan atau reaksi yang merugikan terhadap terapi obat, seperti melepuh, membengkak atau bersisik.

4.4 Penyuluhan kepada Klien
- Beritahu klien untuk tidak menggunakan pembersih yang keras pada kulit. Beritahu klien untuk membersikan kulit beberapa kali sehari.
- Ajari klien mengenai efeksamping dan reaksi yang merugikan yang berkaitan dengan obat yang dipakai. Beritahu klien untuk segera melaporkan jika ditemukan hal-hal abnormal
- ajari klien bagaimana cara mengoleskan salep atau krim tropikal dengan teknik yang bersih

4.5 Evaluasi
Evaluasi efektifitas terapi pada lesi kulit. Jika tidak tampak adanya perbaikan regimen terapi obat dan keperawatan kulit mungkin perlu di ubah.

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Dermatitis kontak ( Dermatitis Venenata ) merupakan reaklsi terhadap unsur-unsur fisik kimia atau biologis. Epidermis mengalami kerusakan akibat iritasi fisik dan kimia yang berulang – ulang.
Penyebab dermatitis kontak iritan yang lazim adalah sabun, diterjen, bahan pembersih dan zat kimia industri.Erupsi dimulai ketiga unsur penyebab mengenai kulit. Reaksi pertama rasa gatal terbakar dan eritiema yang segera diikuti oleh gejala edema, papula, pesikel, serta pembebasan cairan atau sekret.
Proteksi terhadap zat penyebab dan penghindaran kontakan merupakan tindakan penting. Pengobatan dermatitis dengan obat-obat krim atau salep, contoh Krem Amsinosid 0,1 % ( Cyclocort) krim :
- Deksametason ( decadron) krim
- Hidrokortison (Chloramfecort) krim, salep
- Betametason Vaerat 0.01 % (valiusone) krim
- Desoksimetason 0.25% (topicor) krim, salep


DAFTAR PUSTAKA
1. Joice L Kee dan Uvelyn. R. Hayes : FARMAKOLOGI ( PENDEKATAN PROSES KEPERAWATAN ) Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1994. Hal. 381 – 386
2. Dr. Adhi Djuanda “Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin” Edisi kedua, Penerbit Fakultas Kedoktetan Universitas Indonesia, Jakarta, 1993 Halaman 144
3. Brunner dan Suddharth Buku Aljabar “Keperawatan Medikal – Bedah “, Edisi 8, Vol. 3 Penerbit Kedotoran EGC, Jakarta 1997
4. Anna Wahyuni W. S. Farm, Apt “Buku Saku Obat-obatan Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian” Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM, 2005
5. Panduan Pelayanan Informasi Obat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar