Rabu, 21 Maret 2012


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur panulis haturkan kehadiran TUHAN Yang Maha Esa, karena dimana besar cinta kasihnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini

Terimakasih juga kepada dosen pembimbing dan juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini disusun dengsn tujuan memberikan pemahaman dam notivasi dilakukan masyarakat, agar dapat berguna untuk menunjang dan fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan penyakit sistem integumem “DERMATITIS KONTAK”
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan – kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat dio harapkan oleh penulis untuk melengkapi makalah ini.




Penulis
BAB I
PENDAHULUAN


1. Definisi Kulit
Kulit adalah organ tubuh yang terletak pada bagian luar dan membatasi dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ dan vital serta mencerminkan kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elstis dan sensitif bervariasi pada keadaan iklim, umur, seks, rasa, dan juga bergantung pada kondisi tubuh

2. Anatomi Kulit
Anatomi kul;it secara hispotalogik kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama, yaitu:
1.1 Lapisan Epidermis terdiri atas :
Satrum korneum ( Lapisan tanduk )
Lapisan paling luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak beinti dan protoplasmanya telah beruba menjadi keratin (zat tanduk)
Stratum lusidum
Terdapat langsung dibawah komponen korneum, merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah menjadi berarti protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas ditelapak (zat Kerathohialin)
Stratum Granulosum (Lapisan Keratihialin )
Merupakan 2 ata 3 bagian sel-sel gepeng dengan sitoplasma bebutir kasar dan inti diantaranya stratrum granulosum juga tampak jelas ditelapaktangangan dan kaki
Stratum Basale
Terdiri sel-sel kubus (kulumnur) yangbtersusun fertikal pada pembatasan dermo epidermal seperti pagar (palisade) lapisan ini merupakan lapisan bawah.

1.2 Lapisan Dermis
Lapisan dibawah epedermis yang jauh lebih tebal dari pada epidermis

1.3 Lapisan Subkutis
Kelanjuten dermis terdiri atas jaringan ikat longgar, berisi sel-sel lemak didalamnya. Lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi pembuluh darah dan getah bening

3. Fungsi Kulit
Kulit mempunyai fungsi yaitu :
3.1 Sebagai mproteksi, kulit manjaga dalam tubuh terghadapm gangguan atau mekanisme
3.2 Sebagai absorpsi penyerapan dapat berlangsung melalui cara anatar sel menbus sel-sel epidermis
3.3 Sebagai ekskresi kelebjar-kelenjar kulit mengeluarkan sat-sat yang tidak berguna atau sisa metabilosme dalam tubuh
3.4 Sebagai persepsi kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik disermis dan subkutis
3.5 Sebagai pengatur suhu tubuh (termoregulasi) kulit melakukan peran ini dengan cara mengeluarkan keringat dan menyerutkan pembuluh dara kulit
3.6 Sebagai pembentuk pigmen, sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak dilapisan basal dan sel ini berasal dari nyeri saraf.
3.7 Sebagai keratin lapisan epidermis dewasa mempunyai 3 jenis sel utama yaitu keratinosit, sel langerhans, melanosit
3.8 Sebagai pembentuk vitamin D

BAB II
ISI
DERMATITIS KONTAK

2.1 Definisi
Dermatitis kontak ( dermatitis venenata) merupakan reaksi kulit terhadap unsur- unsur fisik, keringat, atau biologi. Epidermis mengalami kerusakan akibat iritasi fisik dan kimia yang berulang-ulang. Dermatitis kontak bisa berupa tipe iritan-iritan primer reaksi nonalergik terjadi akibat pajanan terhadap substansi iritatif satau tipe oleh pajanan terhadap alergen kontak penyebab dermatitis kontak iritan yang lazim adalah sabun, diterjen, bahan pembersih dan zat kimia industri.

2.2 Etiologi
Banyak agen dapat meyebabkan dermatistik kontak dibawah ini beberapa contoh sekret serangg, lipas dan sebagainnya, serta getah tumbuh-tumbuhan dan dapat menimbulkan dermatitis. Yang terbentuk liner, serta getah tumbuh-tumbuhan dapat menimbulkan dan sat-sat terjen (mis. Lisol) dessinfektasia dan zat warna (untuk pakaian, sepatu dan lain-lain

2.3 Patogenesis
Dermtitis kontak alergik termasuk reaksi tipe IV ialah hipersentivitas tipe lambat. Pantogenesisnya melalui 2 fase yaitu :
Fase induksi adalah :
Saat kontak pertam anergen dengan kulit sampai limposit mengenal dan memberi respon, memerlukan waktu 2 – 3 minggu.

Fase Elisitas adalah :
Terjadi kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa sel efektor yang telah tersintisasi mengeluarkkan limforkrim yang mampu menarik berbagai sel badan sehingga terjadi gejala klinis.

2.4 Manifestasi Klinis
Erupsi dimulai ketika unsur penyebeb mengenai kulit. Reaksi pertama mencakup rasa gatal, terbakar dan eritama yang segera diikuti oleh gejela edema, pakula, vesikel serta perembesan atau sekret. Pada fase subkutis, perubahan vesikuler ini tidak begitu mencolok lagi dan berubah menjadi pembentukan krusta, pengeringan atau bila pasien terus menerus menggaruk kulitnya, penebalan kulit (likenifikasi) dan pigmentasi ( perubahan warna) akan terjadi infasi sekunder timbul kembali

2.5 Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnese dan gambaran klinis. Percobaan tempel tidak dapat dilakukan pada stadim akut, karena akan memberatkan penyakit.

2.6 Pengobatan
Proteksi terhadap zat penyebab dan penghindaran kontakan merupakan tindakan penting. Antihistamin sistimik tidak di indikasikan pada stadium permulaan, sebab tidak ada pembebasan histamin. Pada stadium slenjunya terjadi pembebasan histamin secara pasiv. Kortikosteroid sistimik hanya diberikan penyakit berat misalnya predmison 20 mg sehari. Terapi topikal digunakan sesui dengan petunjuk umum pengobatan dermatitis.

Contoh-contoh obat dermatitis :
- Amsinosid 0,1 % ( Cyclocort) krim, salep
- Deksametason ( decadron) krim
- Hidrokortison (Chloramfecort) krim, salep
- Betametason Vaerat 0.01 % (valiusone) krim
- Desoksimetason 0.25% (topicor) krim, salep


BAB III
FARMAKOLOGI OBAT

3.1 Cloramfecort
Komposisi :
Tiap gram krim mengandung
Cloramfenikol basa………. 20 mg
Hidrokartison Asetat………25 mg
Farmakologi
Cloramfenikol merupakan suatu antibiotika yang memiliki sprektum antimkuman yang luas berfungsi untuk menyembukan infeksi poada kulit, termasuk infeksi-infeksi sekunder yang umunya menyertai radang kulit
Indikasi
Pengobatan penyakit-penyakit kulit akibat alergi.
Efek samping :
Sebagai mana prepara, kortikosteroid lain, pemakaian hidrokartison dalam jangka panjang dapat menyebabkan atrovi epidermal dan dermal sehingga kulit menjadi tipis, stria angieklasi purpura tipe senil (misalnya) pada leher, muka, ketik, daerah perianal), mengaburkan infeksi jamur dan skabies serta memperbberat infeksi yang ada.
Kotra Indikasi
Infeksi jamur (mikosis) dan tuberkulosis kulit
Perhatian dan Peringatan
Hanya untuk pengobatan kulit, jangan digunakan pada mata

Kemasan : Tube berisi 10 g krim .
Dosis : 2 x pemberian perhari .

3.2 Farmakokinetik
Absorpsi : cepat pada semua rute, kecuali rektal
Metabolisme : di hati
T1/2 Biologik : 8 – 12 jam
Eliminasi : ginjal terutama sebagi 17 hidrositeroid dan 17 ketosteroik

BAB IV
PROSES KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
- Dapatkan riwayat dari klien mengenai awitan dari lesi kulit Perhatikan jika terdapat riwayat keluarga dari kelainan kulit.
- Kaji erupsi kulit klien. Jika ada jelaskan lesi lokasi dan drainasenya
- Dapatkan pembiakan dari lesi kulit yang mengalirkan nanah
- Dapatkan tanda-tanda vital dasar klien. Laporkan jika ada kenaikan suhu

4.2 Perencanaan
Lesi-lesi kulit akan mengecil atau akan hilang setelah terapi obat dan keperawatan kulit

4.3 Intervensi Keperawatan
- Oleskan pengobatan topikal pada lesi-lesi kulit dengan menerapkan teknik aseptik
- Pantau tanda – tanda vital dan laporkan penemuan yang abnormal
- periksa tempat – tempat terjadinya lesi selama terpi obat untuk melihat adanya perbaikan atau reaksi yang merugikan terhadap terapi obat, seperti melepuh, membengkak atau bersisik.

4.4 Penyuluhan kepada Klien
- Beritahu klien untuk tidak menggunakan pembersih yang keras pada kulit. Beritahu klien untuk membersikan kulit beberapa kali sehari.
- Ajari klien mengenai efeksamping dan reaksi yang merugikan yang berkaitan dengan obat yang dipakai. Beritahu klien untuk segera melaporkan jika ditemukan hal-hal abnormal
- ajari klien bagaimana cara mengoleskan salep atau krim tropikal dengan teknik yang bersih

4.5 Evaluasi
Evaluasi efektifitas terapi pada lesi kulit. Jika tidak tampak adanya perbaikan regimen terapi obat dan keperawatan kulit mungkin perlu di ubah.

BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Dermatitis kontak ( Dermatitis Venenata ) merupakan reaklsi terhadap unsur-unsur fisik kimia atau biologis. Epidermis mengalami kerusakan akibat iritasi fisik dan kimia yang berulang – ulang.
Penyebab dermatitis kontak iritan yang lazim adalah sabun, diterjen, bahan pembersih dan zat kimia industri.Erupsi dimulai ketiga unsur penyebab mengenai kulit. Reaksi pertama rasa gatal terbakar dan eritiema yang segera diikuti oleh gejala edema, papula, pesikel, serta pembebasan cairan atau sekret.
Proteksi terhadap zat penyebab dan penghindaran kontakan merupakan tindakan penting. Pengobatan dermatitis dengan obat-obat krim atau salep, contoh Krem Amsinosid 0,1 % ( Cyclocort) krim :
- Deksametason ( decadron) krim
- Hidrokortison (Chloramfecort) krim, salep
- Betametason Vaerat 0.01 % (valiusone) krim
- Desoksimetason 0.25% (topicor) krim, salep


DAFTAR PUSTAKA
1. Joice L Kee dan Uvelyn. R. Hayes : FARMAKOLOGI ( PENDEKATAN PROSES KEPERAWATAN ) Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1994. Hal. 381 – 386
2. Dr. Adhi Djuanda “Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin” Edisi kedua, Penerbit Fakultas Kedoktetan Universitas Indonesia, Jakarta, 1993 Halaman 144
3. Brunner dan Suddharth Buku Aljabar “Keperawatan Medikal – Bedah “, Edisi 8, Vol. 3 Penerbit Kedotoran EGC, Jakarta 1997
4. Anna Wahyuni W. S. Farm, Apt “Buku Saku Obat-obatan Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian” Bagian Farmasetika Fakultas Farmasi UGM, 2005
5. Panduan Pelayanan Informasi Obat

Sabtu, 11 Februari 2012

DIABETES MELLITUS




DIABETES MELLITUS
A. Pengertian
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

C. Etiologi
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.
2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga


D. Tanda dan Gejala
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.

Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
17. Hipertensi

Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.

Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa

Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM
Belum pasti DM
DM
Kadar glukosa darah sewaktu
- Plasma vena
- Darah kapiler
Kadar glukosa darah puasa
- Plasma vena
- Darah kapiler
<>
<80
<110
<90
100-200
80-200
110-120
90-110
>200
>200
>126
>110

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1.Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

F. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
2. Latihan
3. Pemantauan
4. Terapi (jika diperlukan)
5. Pendidikan

G. Pengkajian
- Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
- Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
- Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
- Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
- Integritas Ego
Stress, ansietas
- Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
- Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
- Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
- Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
- Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
- Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

H. Masalah Keperawatan
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
2. Kekurangan volume cairan
3. Gangguan integritas kulit
4. Resiko terjadi injury

I. Intervensi
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi
: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
- Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
- Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi :
- Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
- Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
- Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
- Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
- Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
- Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
- Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
- Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
- Kolaborasi dengan ahli diet.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi :
- Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
- Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
- Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
- Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
- Pantau masukan dan pengeluaran
- Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
- Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
- Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur
- Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.
Kriteria Hasil :
Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
- Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
- Kaji tanda vital
- Kaji adanya nyeri
- Lakukan perawatan luka
- Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
- Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
1.     
4. Resiko terjadi injury
berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan
Tujuan : pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
Intervensi :
- Hindarkan lantai yang licin.
- Gunakan bed yang rendah.
- Orientasikan klien dengan ruangan.
- Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
- Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi

DAFTAR PUSTAKA

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.

Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002
Sumber:http://www.ilmukeperawatan.com


Sabtu, 04 Februari 2012

Pengobatan Tahan Epilepsi

Inilah cara pengobatan tahan epilepsi, download

http://www.ziddu.com/download/18504508/PengobatanTahanEpilepsi.docx.html


Back Pain II, Kedokteran Pelengkap dan Alternatif

jurnal personal hygine

Personal hygine merupakan kebersihan perseorang, apa itu personal hygine klik untuk selengkapnya


http://www.ziddu.com/download/18504440/artikel.doc.html

askep nyeri

Nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat menjelaskan dan mengevaluasi perasaan tersebut. Secara umum, nyeri dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Akan tetapi, bias tidaknya nyeri dirasakan dan hingga derajat mana nyeri tersebut mengganggu dipengaruhi oleh interaksi antara system algesia tubuh dan transmisi system saraf serta interpretasi stimulus
lebih lengkapnya dowload di bawah ini

http://www.ziddu.com/download/18504367/KDMINYERI.docx.html

Minggu, 29 Januari 2012

Manfaat Vitamin A


Semua Manfaat Vitamin A 

Bukan cuma sebatas bagus untuk kesehatan mata, Vitamin A sungguh memiliki kegunaan yang membuat anda tak ragu untuk memastikan tubuh mendapat asupan cukup setiap hari. Vitamin A merupakan nutrisi penting terutama dalam proses terapi dan perawatan pencegahan serta sangat krusial dalam pengobatan sindrom kekurangan gizi. Vitamin yang juga disebut retinol diyakini memberi efek positif dan meningkatkan pertumbuhan serta imunitas atau kekebalan.


Jenis vitamin ini juga menjaga sel-sel mukus atau lendir dan kulit tetap sehat. Ketika membran lendir tetap lembab dan tahan terhadap kerusakan sel, maka kekebalan terjaga. Sebaliknya kekurangan kelembaban pada selaput lendir akan memudahkan terjadi infeksi dalam tubuh.

Sel selaput lendir sangat penting dalam pencegahan kanker. Vitamin A bersifat anti kanker karena menekan pertumbuhan DNA sel-sel kanker. Keberadaan vitamin juga menurunkan risiko pertumbuhan tumor di kanker yang matang dan mencegak sel-sel lukemia membelah diri.

Bukan hanya itu, Vitamin A khususnya sangat membantu dalam penyembuhan penyakit yang disebabkan virus. Virus yang menyeran sistem pernafasan, campak, bahkan virus AIDS, menjadi lembam ketika di lingkungan sekitar terdapat jumlah vitamin A yang cukup.

Pasien dengan penyakit bersumber virus kerap memiliki kadar Vitamin A rendah di dalam darah. Asupan dalam jumlah tepat sangat diperlukan pasien untuk membangun pertahanan tubuh, yang akhirnya mengarah pada proses penyembuhan cepat. Namun, dosis besar vitamin A harus dilakukan dibawah pengawasan dokter.

Kabar baik lain, vitamin ini juga berperan penting mencegah stroke. Sangat disarankan untuk menambah asupan vitamin A lewat buah-buahan dan sayuran setiap hari.

Bagi pasien pemilik sindrom mata kering, terapi paling mudah juga tak jauh dari vitamin A. Mata kering terjadi ketika pembentukan air mata dan lubrikasi berhenti. Kondisi ini membuat seseorang menjadi luar biasa tidak nyaman.
Tetesan vitamin A sangat direkomendasikan untuk kasus ini, karena uji klinis membuktikan tetes mata mengandung vitamin A meningkatkan kelembaban dan fungsi sel dalam mata. Masih terkait mata, vitamin ini juga mampu meningkatkan pengelihatan malam dan membantu mata menyesuaikan diri dengan perubahan pencahayaan.

Tak berhenti sampai di sana, Vitamin A juga diyakini sebagai jalan keluar cukup menjanjikan untuk pencegahan dan pengobatan kanker kulit, terutama bila dikonsumsi oral. Vitamin a juga sangat membantu dalam perawatan pigmentasi kulit yang sering terlihat pada kulit yang menua.

Para pakar gizi merekomendasikan bahwa cara terbaik untuk mendapat asupan Vitamin A ialah melalu diet tepat dan seimbang. Secara keseluruhan vitamin A penting dalam peningkatan kesehatan tubuh mengingat ia mampu mendongkrak daya sel-sel darah putih, kekuatan reproduksi dan sistem kerangka tubuh. Beberapa makanan alami kaya vitamin A yang bisa dikonsumi yakni brokoli, wortel, aprikot, hati sapi, susu, kuning telur dan minyak ikan kod.

 
Sumber: Health Tips 101
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/tips-sehat/10/12/10/151462-dapatkan-semua-manfaat-vitamin-a-sekarang-juga-